Varian Menu 5 Sehat 4 Sempurna Ini Malah Bikin Tepuk Jidat

Varian Menu 5 Sehat 4 Sempurna Ini Malah Bikin Tepuk Jidat Varian Menu 5 Sehat 4 Sempurna Ini Malah Bikin Tepuk Jidat

5sehat4sempurna.com –¬†Jargon tersebut telah muncul jauh sebelum kita benar-benar belajar tentang makanan sehat di bangku sekolah. Slogan 5 sehat 4 sempurna ini dipopulerkan oleh guru besar ilmu gizi pertama di Indonesia, Prof. Dalam konsep 5 sehat 4 sempurna, makanan sehat adalah makanan yang mengandung 4 sumber nutrisi yaitu makanan pokok, lauk pauk, sayur-sayuran, buah-buahan, dan disempurnakan dengan susu. Namun baru-baru ini ada warganet yang meramaiakan slogan 5 sehat 4 sempurna ini dengan hal-hal yang unik dan lucu. Warganet di linimasa Twitter membuat varian-varian menu 5 sehat 4 sempurna yang justru jauh dari kata sempurna. Bahkan tak memenuhi syarat seperti yang ditetapkan oleh ahli gizi.

Banyak dari warganet yang membuat varian menu nyeleneh mulai dari makanan sampai kebawa perasaan. Nah kali ini untuk kalian yang sudah penasaran dengan varian-varian menu nyeleneh. 2. Wah ini dia menghambat pertumbuhan ekonomi, kalau udah diutang. 3. Habis makan tidur itu adalah kunci. 4. Ini mau makan apa mau ngegombal sih. 5. Kalau ini mungkin lagi proses membangun rumah. 6. Siapa yang makan sambil megang gadget? 7. Makanya kalau makan jangan banyak-banyak porsinya. 8. Jangan ditiru yan teman-teman. 9. Terserah adalah kata yang sering digunakan ketika tak punya pilihan lain. 10. Masa habis makan nggak bayar sih. Pokoknya jangan ditiru ya.

Sayangnya saya tidak bisa langsung daftar karena harus melampirkan hasil laboratorium yang masih diambil teman di Kelapa Gading. Sekitar jam 11.00, hasil lab datang dan saya langsung daftar. Karena hari itu hari Jumat, maka ada jam istirahat untuk sholat Jumat. Sekitar jam 13.45, saya baru dapat antrean. Jadi saya menunggu hamper 5 jam, sendirian di lorong RSCM, dan tensi darah saya hari itu 90/85, lumayan rendah. Selama masa menunggu antrean itu, terus terang saya agak down, saya sempat menangis, air mata jatuh untuk yang petama karena sakit ini. Saya mengumpulkan kekuatan untuk “siap” menjalani operasi, saya tahu ini operasi kecil, bahkan sangat kecil, tapi nyali saya juga terasa kecil hari itu. Kebetulan hari itu saya sendiri, karena suami saya tidak bisa menemani. Setelah diperiksa oleh dokter pre anestesi, sekitar 10 menit pemeriksaanya untuk antrean 5 jam, saya dinyatakan sehat untuk operasi tanggal 22 Desember 2015, jam 09.00. Kelar pemeriksaan, saya langsung ke Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, jam 18.00, Migrant CARE menggelar rangkaian akhir hari buruh migran dimana selain ada diskusi, Migrant CARE malam itu juga memberikan anugerah khusus “Migrant CARE Award untuk almarhumah Yanti Muchtar” sebagai pioneer advokasi hak-hak buruh migran perempuan.

Mba Yanti meninggal dunia pada 18 November 2015 setelah berjuang melawan kangker agresif. Penganugerahan itu juga menguatkan saya bahwa selama masih ada jalan untuk berusaha sembuh, harus ditempuh. Sesuai kesepakatan dengan RSCM, tanggal 21 Desember 2015 saya harus masuk untuk rawat inap dulu sebelum menjalani operasi tanggal 22 Desember 2015 dengan ditemani suami dan mertua saya yang khusus datang untuk nemanin operasi menantunya, beberapa teman dari Migrant CARE dan Kapal Perempuan serta sahabat lama waktu di pesantren, Nurul Azkiyah. Selasa, 22 Desember 2015, bertepatan dengan hari kebangkitan perempuan, yang hari itu saya maknai sebagai kebangkitan melawan penyakit, saya siap 100% untuk menjalani operasi. Semula operasi dijadwalkan jam 09.00, namun karena ada anak yang harus operasi, maka didahulukan. Telpon saya berdering, saya tahu itu dari radio, saya jawab halo, nampaknya minta wawancara jam 15.00 dan saya sampaikan bahwa saya lagi persiapan operasi (. Sekitar jam 12.00, saya dibawa ke ruang operasi dengan kursi roda. Saya melewati deretan teman-teman Migrant CARE untuk memberikan dukungan, tetapi saya tidak berani menatap mereka karena takut jadi emosional.

Saya juga tidak berani memandang suami dan mertua. Baju operasi sudah saya kenakan, dan masuk ke ruang operasi. Lampu-lampu besar di atas agak membuat sedikit tegang, tetapi dinetralisir oleh para team dokter yang sangat informatif. Setelah dijelaskan prosedur operasi dan berapa lama operasi akan berlangsung, saya kemudian dibius total. Masih di dalam kamar pasca operasi, dalam kondisi setengah agak sadar, saya melihat jam dinding pukul 15.00. Mulut saya dipenuhi kasa, tentu saya tidak bisa bicara. Saya lambaikan tangan, suster datang dan saya menuliskan sesuatu diatas kertas “tolong panggilkan suami saya”. Sedikit samar saya mendengar suster memanggil, suami pasien ibu Anis Hidayah. Suami saya datang, tangan saya digenggam, tidak ada kata-kata yang keluar, tapi saya lihat matanya sebam. Jam 16.00 saya dibawa ke kamar, saya lihat banyak teman yang datang, ada mba Missi dan Mas Wahyu, Ema yang dari kemarin sama Bariyah duet mencari kamar (, teman-teman Migrant CARE masih full di sana. Saya juga dikasih tau kalau kakak saya, mas Ilham juga sempat menunggu saat saya operasi. Terima kasih semuanya. Jam 16.00-17.00 sisa-sisa darah segar seperti tumpah dari mulut saya, tisu satu pak besar habis, saya lihat suami dan mertua panik.