Cara Menghindari Terjadinya Kurang Gizi Pada Balita

Cara-Menghindari-Terjadinya-Kurang-Gizi-Pada-Balita

5sehat4sempurnaKurang gizi merupakan awal dari berbagai masalah kesehatan balita dan menjadi salah satu hal yang dapat menghambat tumbuh kembang balita. Berikut ini adalah informasi mengenai cara untuk mencegah terjadinya kurang gizi pada balita.

Malnutrisi atau kondisi kekurangan gizi dapat mengakibatkan munculnya penyakit tertentu, serta mengganggu perkembangan kognitif si Kecil. Selain itu kekurangan gizi dapat meningkatkan risiko penyakit pada masa dewasa hingga kematian.

Data dari WHO menunjukkan bahwa dari 7.6 juta kematian balita setiap tahunnya, 35% disebabkan oleh faktor yang berhubungan dengan nutrisi. Malnutrisi ditemukan berhubungan kuat dengan angka kematian bayi dan balita akibat diare dan infeksi saluran pernapasan.

Kurang gizi disebabkan oleh kurangnya asupan zat gizi dalam makanan. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

-Kondisi medis yang menyebabkan kurangnya nafsu makan, kondisi mental, perawatan RS berulang hingga mengakibatkan gangguan menelan, mual, muntah dan diare terus menerus.

-Faktor fisik seperti kondisi gigi yang buruk, gangguan penciuman dan gangguan pada indera pengecapan.

-Faktor sosial seperti makan bersama akan lebih banyak daripada makan sendiri dan gangguan mobilitas seperti sulitnya mendapatkan bahan makanan.

Kurang gizi pada si Kecil tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang ia makan secara langsung, melainkan juga dipengaruhi oleh asupan gizi Ibu, terutama saat hamil. Saat si Kecil masih berada di dalam kandungan, sumber gizi yang ia terima sepenuhnya berasal dari Ibu, sehingga kondisi gizi Ibu akan mempengaruhi kondisi gizi si Kecil nantinya.

Untuk mencegah si Kecil kurang gizi, Ibu perlu menyiapkan diri sejak hamil dan menyusui. Pemenuhan gizi yang optimal saat hamil dan menyusui akan memberikan asupan gizi yang baik untuk si Kecil. Setelah melahirkan, Ibu perlu melanjutkan pemberian gizi yang baik dengan pemberian ASI eksklusif hingga usia 6 bulan, dilanjutkan dengan pemberian MPASI dalam jumlah cukup dan pada waktu yang tepat, dengan tetap disertai pemberian ASI hingga usia 2 tahun. Hal ini dapat menyelamatkan nyawa 1,5 juta balita setiap tahunnya.

Tahukah kamu?
”Kurang gizi atau gizi buruk mengakibatkan ketidakseimbangan kekebalan tubuh dan hambatan penyembuhan luka, sehingga memperburuk pemulihan dari suatu penyakit dan menghambat pertumbuhan si Kecil. Ketahui selengkapnya di sini.“

Nutrisi Ibu Menyusui
Pemenuhan gizi yang cukup memiliki peranan penting untuk ibu menyusui. Meskipun produksi ASI, konsentrasi protein, lemak dan laktosa tidak dipengaruhi oleh makanan Ibu secara umum, namun saat menyusui, kebutuhan energi Ibu meningkat hingga 400 kilo kalori.

Selain itu, makanan yang dikonsumsi Ibu dapat memengaruhi kandungan mikronutrien (vitamin dan mineral) dan komposisi asam lemak ASI. Sementara ASI merupakan sumber gizi utama bagi si Kecil, terutama dalam 6 bulan pertama. Ibu yang menjalani diet ketat saat menyusui berisiko mengalami kekurangan zat gizi seperti vitamin B12, besi, seng, dan kalsium.

Baca Juga : Cara Agar Balita Tumbuh Dan Berkembang Dengan Baik

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh ibu menyusui adalah:

– Jumlah asupan kalori. Kebutuhan kalori tambahan selama pemberian ASI eksklusif adalah 330 kilo kalori pada 6 bulan pertama dan 400 kilo kalori pada 6 bulan kedua.

-Kebutuhan cairan. Saat menyusui, kebutuhan cairan ibu menyusui akan meningkat hingga 800 ml per hari. Untuk memenuhi kebutuhan caran yang cukup tinggi, Ibu bisa melakukan dengan cara minum sesering mungkin.

-Kandungan vitamin D pada ASI sangat bervariasi, sesuai dengan kadar vitamin D Ibu. Semua perempuan pada dasarnya harus memastikan mereka mengonsumsi cukup vitamin D, meskipun tidak ada tambahan kebutuhan vitamin D saat menyusui.

-Asupan Yodium. Rekomendasi asupan yodium per hari selama menyusui adalah 250 mcg. Jumlah ini sulit didapatkan dari makanan saja, sehingga suplementasi yodium biasanya disarankan untuk ibu menyusui.

Nutrisi untuk Balita
Ketika si Kecil lahir, makanan yang paling ideal adalah ASI. Kandungan ASI mampu memberikan energi dan nutrisi untuk tumbuh kembangnya seperti protein, lemak, vitamin dan mineral. Menginjak usia 6 bulan, kebutuhan nutrisi si Kecil bisa ditambahkan melalui makanan pendamping ASI. Beberapa zat gizi penting untuk anak antara lain:

-Karbohidrat. Karbohidrat bisa didapatkan dari ASI atau susu formula. Memasuki masa MPASI, si Kecil bisa mendapatkan tambahan karbohidrat dari sereal, biji-bijian, sumber protein, atau buah.

-Protein. Pada bayi yang diberikan ASI eksklusif, seluruh asupan protein didapatkan dari ASI. Setelah itu, sumber protein tambahan bisa didapatkan dari daging, ayam, ikan, kuning telur, sereal, keju, dan lainnya. Jumlah protein yang diberikan pada si Kecil harus memenuhi kebutuhannya untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Kebutuhan protein bayi 0-6 bulan adalah sekitar 12 gram dan usia 7-11 bulan sekitar 18 gram.

-Lemak. ASI dan susu formula si Kecil merupakan sumber utama lemak, termasuk asam lemak esensial untuk si Kecil. Sumber lemak lainnya untuk bayi diatas 6 bulan adalah daging, kuning telur, produk susu lainnya, dan lemak atau minyak yang ditambahkan saat memasak.

-Vitamin dan mineral. Bila konsumsi makan si Kecil baik dan bervariasi, Ibu tak perlu menambahkan suplemen vitamin atau mineral pada si Kecil. Kecuali memang disarankan oleh dokter. Bayi sangat rentan berisiko mengalami anemia defisiensi zat besi. Hal ini terjadi karena peningkatan kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan mereka biasanya tidak disertai dengan asupan zat besi yang cukup. Saat memulai MPASI, Ibu bisa memenuhi kebutuhan zat besi si Kecil dengan memberikan 2 porsi makanan sumber zat besi setiap hari.

Kurang gizi yang tidak ditangani sejak dini bisa mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan fisik maupun mental si Kecil, ia pun menjadi lebih rentan terhadap penyakit seperti diare dan pneumonia (radang paru), serta bisa menurunkan kualitas hidup.